Menatap Muktamar ke-35: Tujuh Tokoh Masuk Bursa Calon Ketua Umum PBNU, Tiga Klaster Visi Menguat

Menatap Muktamar ke-35: Tujuh Tokoh Masuk Bursa Calon Ketua Umum PBNU, Tiga Klaster Visi Menguat
Foto : Tujuh tokoh yang masuk bursa pencalonan Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 NU di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. ( sumber: muktamar.nu.id )

JOMBANG, FileNews.id - Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan digelar di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, semakin menyita perhatian publik. Di tengah hiruk-pikuk persiapan teknis, bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU) justru menjadi sorotan utama, terutama di media sosial. 

Warga NU, sebagai basis massa organisasi Islam terbesar di Indonesia ini, tampak antusias menyimak profil dan visi-misi tujuh tokoh yang dikabarkan kuat masuk dalam kontestasi kepemimpinan lima tahunan tersebut. Dinamika ini bukan sekadar persaingan figur, melainkan juga arena kontestasi gagasan tentang arah gerak NU ke depan: apakah melanjutkan program strategis yang telah berjalan, memperkuat akar pesantren tradisional, atau membuka ruang regenerasi kepemimpinan muda. 

Dari 15 Nama, Mengerucut Jadi Tujuh
Berdasarkan pantauan di berbagai platform media sosial seperti Facebook, Threads, Instagram, dan X, setidaknya ada 15 tokoh yang profilnya beredar sebagai calon potensial Ketua Umum PBNU. Namun, konfirmasi resmi masih terbatas. 

Dalam tulisan ini, penulis merujuk pada data dari Majalah Risalah NU, edisi khusus muktamar, edisi 180, Agustus 2026, yang menyebutkan bahwa bursa calon Ketua Umum PBNU mengerucut pada tujuh tokoh. Ketujuh nama tersebut terbagi dalam tiga klaster berdasarkan visi dan rekam jejaknya: Klaster Polarisasi Gagasan dan Kontinuitas, Episentrum Pesantren Tradisional, dan Poros Regenerasi. 

Klaster Polarisasi Gagasan dan Kontinuitas
Klaster ini diwakili oleh dua tokoh yang mengusung visi melanjutkan dan mematangkan program strategis yang telah dijalankan selama periode sebelumnya.

1. KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)
Lahir pada 16 Februari 1966, Gus Yahya secara resmi telah menyatakan niatnya pada 22 Juli 2026 untuk kembali memimpin PBNU. 
Sebagai petahana, Gus Yahya mengusung visi kontinuitas yang terfokus pada kemandirian organisasi. Pendekatannya menitikberatkan pada kematangan gagasan "Merawat Jagat, Membangun Peradaban", serta memperkuat posisi tawar NU dalam diplomasi global dan penyelesaian konflik internasional. 
Visi ini dianggap sebagai kelanjutan logis dari program-program yang telah dijalankan selama periode sebelumnya, dengan penekanan pada penguatan identitas NU sebagai organisasi yang tidak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga relevan dalam percaturan global.

2. Prof. KH Nasaruddin Umar
Prof. KH Nasaruddin Umar, yang saat ini menjabat sebagai Menteri Agama RI, lahir pada 23 Juni 1959. 
Mewakili irisan ulama dan teknokrat, Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut mencoba membawa narasi harmoni keumatan. Dukungan dari berbagai cabang di luar Pulau Jawa menjadikannya simbol desentralisasi kepemimpinan NU yang didukung oleh pengalaman birokrasi tingkat tinggi. 
Figur Nasaruddin Umar dinilai mampu menjembatani kepentingan NU sebagai organisasi massa dengan peran negara, terutama dalam konteks kebijakan keagamaan dan pendidikan.

Episentrum Pesantren Tradisional
Klaster ini diwakili oleh tiga tokoh yang merepresentasikan otoritas historis pesantren sebagai akar tradisi NU. Mereka mengusung visi penguatan identitas pesantren dan responsivitas terhadap isu-isu populis.

1. KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)
Lahir pada 17 Agustus 1958, Gus Kikin merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. 
Dia merepresentasikan otoritas historis Tebuireng, Jombang, menjadi simbol penjaga tradisi klasik NU yang sangat dihormati oleh warga NU. Figur Gus Kikin dianggap sebagai representasi ideal dari nilai-nilai pesantren yang telah menjadi fondasi utama NU sejak didirikan. 

2. KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)
Gus Yusuf, yang saat ini berusia 53 tahun, adalah Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo. 
Beliau telah mendeklarasikan kesiapannya maju setelah mendapat dukungan dari 23 PCNU di Jawa Tengah. Gus Yusuf banyak mendengar dan menyerap aspirasi grassroots warga NU yang menginginkan PBNU lebih responsif terhadap isu-isu populis, kesejahteraan ekonomi, dan dakwah kultural. 
Visi Gus Yusuf menekankan pada penguatan ekonomi umat dan pendekatan dakwah yang lebih menyentuh kebutuhan riil masyarakat di akar rumput.

3. KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)
Gus Rozin telah menyatakan kesiapannya maju sebagai Ketua Umum PBNU dalam sebuah forum silaturahim ketua PCNU se-Jawa Tengah pada medio Juli 2026. 
Beliau mengusung wacana mengenai paradigma pendidikan yang lebih adaptif, terlebih bagi warga NU. Dalam hal ini, fokus beliau pada upaya menjembatani keilmuan kitab kuning dengan tantangan akademis dan profesionalitas modern. 
Gagasan Gus Rozin ini dianggap relevan dengan tuntutan zaman, di mana pesantren dituntut tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghasilkan lulusan yang kompetitif di era global.

Poros Regenerasi
Klaster ini diwakili oleh dua tokoh yang, jika dilihat dari usia, bisa dibilang cukup muda untuk standar kepemimpinan PBNU. Mereka mengusung visi regenerasi dan tata kelola organisasi yang lebih lincah.
1. KH Zulfa Mustofa
Lahir pada 7 Agustus 1977, KH Zulfa Mustofa saat ini adalah Wakil Ketua Umum PBNU. 
Beliau masyhur dengan syair-syair bahasa Arab yang diciptakannya secara spontan. Dengan kedalaman ilmu fikih yang dikuasainya, beliau menawarkan perpaduan ideal antara intelektualitas khazanah klasik dan tata kelola organisasi yang lincah. 
Figur Zulfa Mustofa dianggap sebagai representasi generasi muda NU yang tidak hanya menguasai tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga memahami dinamika organisasi modern.

2. KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)
Gus Salam, yang saat ini berusia 49 tahun, adalah Pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang. 
Beliau sering menyuarakan perlunya check and balances internal agar NU tidak terjebak pada pragmatisme politik dan tetap berpihak pada prinsip keadilan dan maslahah ammah, terutama untuk warga NU. 
Visi Gus Salam ini menekankan pada penguatan integritas organisasi dan menjaga NU agar tetap konsisten pada nilai-nilai dasar yang telah menjadi fondasi sejak didirikan.

Kontestasi Visi: Antara Tradisi dan Modernitas
Ketujuh tokoh ini, dengan latar belakang dan visi yang berbeda, mencerminkan dinamika internal NU yang kaya. Di satu sisi, ada keinginan untuk melanjutkan program strategis yang telah dijalankan (kontinuitas). Di sisi lain, ada dorongan untuk memperkuat akar pesantren tradisional sebagai identitas utama NU. Sementara itu, ada juga suara yang mendesak agar NU membuka ruang lebih luas bagi regenerasi kepemimpinan muda. 

Kontestasi ini bukan sekadar persaingan figur, melainkan juga arena dialektika gagasan tentang arah gerak NU ke depan. Apakah NU akan lebih fokus pada diplomasi global dan kemandirian organisasi? Atau justru memperkuat akar pesantren dan responsivitas terhadap isu-isu populis? Atau mungkin membuka ruang bagi generasi muda untuk membawa tata kelola yang lebih lincah dan adaptif? 

Menanti Muktamar di Tambakberas
Muktamar NU ke-35 di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, akan menjadi momentum penting bagi masa depan organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Tujuh tokoh yang masuk bursa calon Ketua Umum PBNU, dengan tiga klaster visi yang berbeda, akan bersaing untuk mendapatkan kepercayaan dari ribuan delegasi yang hadir. 

Siapapun yang terpilih, diharapkan dapat membawa NU ke arah yang lebih baik, sesuai dengan visi dan misi organisasi yang telah didirikan oleh Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy'ari pada 1926. 

Tentang Muktamar NU ke-35
Muktamar NU ke-35 akan digelar di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada Agustus 2026. Agenda utama muktamar ini adalah pemilihan Ketua Umum PBNU untuk periode 2026–2031. Tujuh tokoh telah masuk bursa calon, terbagi dalam tiga klaster visi: Polarisasi Gagasan dan Kontinuitas, Episentrum Pesantren Tradisional, dan Poros Regenerasi. 

(Rophy Pareno)