Open House Surabaya Movie Creator: Wira Lina Dorong Tim Produksi dan Ekosistem Kreatif
SIDOARJO, FileNews.id - Lesehan santai, obrolan serius, dan secangkir kopi menjadi latar pertemuan yang efektif. Open house Komunitas Surabaya Movie Creator, Minggu (30/08/2026), di Taman Pondok Jati Blok CS No. 11 menghadirkan percakapan produktif tentang bagaimana mengubah gairah berkarya menjadi struktur produksi yang nyata. Inisiatif itu diprakarsai Wira Lina, Ketua PD PARFI Jatim, dan digerakkan oleh Mas Awan sebagai pengarah komunitas.
Pertemuan yang diundangkan lewat grup resmi komunitas ini dirancang ringan namun terfokus: presentasi singkat, curah gagasan, pembagian tugas, dan penentuan prioritas kerja. Tujuan jelas: memetakan langkah konkret agar aktivitas grup tidak berhenti pada wacana, melainkan berbuah produksi film pendek dan pembelajaran praktis bagi anggota.
“Iya, insyaAllah. Terima kasih Mas Awan dan teman‑teman. Saya juga berharap komunitas ini bisa berjalan dengan solid, selaras, dan punya program yang benar‑benar bisa direalisasikan,” ujar Wira Lina. Dia menegaskan bahwa pertemuan ini membahas visi bersama serta agenda operasional: pembentukan tim produksi, kebutuhan SDM dan peralatan, hingga tata kelola ekosistem komunitas. “Yang penting kita bangun bersama, dari komunitas untuk komunitas,” katanya.
Empat fokus prioritas muncul dari diskusi:
Penyusunan prioritas produksi dan kurikulum pembelajaran praktis.
Pembentukan tim produksi: penulisan naskah, penyutradaraan, kamera, produksi, dan pasca-produksi.
Inventarisasi SDM dan peralatan: pemetaan kapasitas anggota dan daftar peralatan dasar.
Perumusan ekosistem kerja: mekanisme tim, alur produksi, dan jaringan distribusi.
Suasana dialog memberi ruang bagi anggota baru menyampaikan aspirasi. Mas Zain berharap komunitas membuka peluang edukasi dan keterlibatan dalam produksi. Laila ingin memahami proses pembuatan film dari nol dan mengasah kemampuan bercerita. Iqbal mengaku ingin belajar langsung dari praktisi. Aspirasi‑aspirasi ini menegaskan dorongan kolektif untuk mentransformasikan minat menjadi kompetensi praktis.
Sebagai pengarah, Mas Awan memaparkan rencana kerja: memetakan departemen, menyeleksi skenario, membentuk tim produksi kecil, dan menjalankan produksi sesuai tanggung jawab tim. “Tujuan utamanya adalah mengubah aktivitas grup menjadi aksi nyata: tim‑tim produksi yang aktif menggarap skenario hingga menjadi film pendek,” ujarnya.
Sesi tanya jawab mengerucut pada aspek teknis: memilih satu skenario matang sebagai pilot project agar sumber daya fokus; menentukan genre yang layak untuk proyek awal; dan strategi pematangan naskah. Saran populer adalah “memeluk” satu naskah terlebih dahulu—memprioritaskan kualitas daripada banyak proyek setengah jadi.
Pertukaran pengalaman memperkaya pertemuan. Seorang peserta berbagi pengalaman produksi short movie di Labuan Bajo, mencontohkan bagaimana memanfaatkan lokasi lokal dan talenta nonprofesional untuk hasil yang natural. Cerita ini menjadi contoh konkret bagaimana komunitas bisa memaksimalkan sumber daya setempat sambil membangun kapasitas anggota.
Panitia memilih format lesehan untuk menjaga suasana inklusif. Penyelenggara mengingatkan bahwa kehadiran harus lebih dari sekadar fisik: kontribusi gagasan, tenaga, dan komitmen dinilai kunci agar ide‑ide ini benar‑benar terealisasi. Dengan keterlibatan aktif, Komunitas Surabaya Movie Creator yang dikomandoi Mas Awan menargetkan lahirnya program yang relevan, realistis, dan berkelanjutan—mulai dari pembentukan tim produksi hingga publikasi karya.
Open house ini meninggalkan optimisme praktis: ide yang jelas, kesepakatan awal, dan rencana tindak lanjut. Tahap berikutnya mencakup pengumpulan naskah, penentuan tim inti, dan penjadwalan produksi pilot—uji nyata bahwa percakapan hari ini akan diterjemahkan menjadi karya esok hari.
Wira Lina: praktik produksi dan pembentukan SDM
Sebagai praktisi industri film dan perwakilan PARFI Jatim, Wira Lina menekankan prinsip dasar: produksi harus bermula dari konsep kuat, tim yang solid, dan perencanaan realistis — bukan sekadar bergantung pada anggaran besar. Rangka saran praktisnya meliputi struktur tim produksi (produser, sutradara, penulis skenario, production manager, tim kamera/lighting/sound, artistik, editor/pasca‑produksi, serta tim administrasi dan distribusi), daftar peralatan dasar, serta tahapan produksi dari pra‑produksi hingga distribusi.
Mengenai anggaran, Wira Lina menegaskan perlunya menyusun RAB setelah konsep dan breakdown produksi jelas. “Saya tidak ingin menyebut satu angka secara umum karena tiap produksi berbeda. Kita susun dulu konsep dan breakdown, baru hitung kebutuhan secara realistis. Saya siap membantu agar anggaran efisien dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.
Maria Eva, Ketua PARFI Sidoarjo, memberi dorongan moral bagi anggota muda: “Dengan banyaknya film layar lebar dan produksi platform seperti Netflix, jangan berkecil hati. Terus semangat berkarya. Ambil cerita‑cerita di sekitar kita—kisah orang tua, peninggalan seperti candi—karena itu bagian dari warisan yang perlu dilestarikan. Pendidikan dan kebudayaan harus berjalan beriringan.” Pernyataan ini menegaskan nilai kultural yang menjadi salah satu pijakan komunitas.
Hadir dalam acara ini antara lain:
Wira Lina, Ketua PD PARFI Jatim (pemrakarsa)
Mas Awan, Pengarah Komunitas Surabaya Movie Creator
RayT. Desta Mahadewi, Wakil Ketua Biro Produksi
Maria Eva, Ketua PARFI Sidoarjo
Ivan & Ayu, Pengurus PARFI Surabaya
(Rophy Pareno)


