Pelajar SMPN 37 Surabaya Turun ke Tambak Wedi: Belajar Menjaga Laut dari Memungut Sampah
SURABAYA, FileNews.id- Di bawah panas pagi kawasan pesisir Kenjeran, puluhan siswa dan siswi SMP Negeri 37 Surabaya berjalan menyusuri Pantai Tambak Wedi dengan sarung tangan, karung, dan alat penjepit di tangan. Mereka bukan sekadar berlibur ke pantai, melainkan menjalankan aksi bersih-bersih yang mengubah pesisir menjadi ruang kelas terbuka.
Sampah plastik sekali pakai, kantong belanja, dan limbah rumah tangga menjadi temuan utama di sepanjang pantai. Satu per satu, para pelajar memungutnya, memilahnya, lalu memasukkannya ke karung. Di balik gerakan sederhana itu, ada pelajaran yang lebih besar: bahwa kebersihan laut tidak dapat hanya diserahkan kepada petugas kebersihan atau pemerintah.
Kegiatan ini dirancang sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa berbasis lingkungan. Sekolah ingin peserta didik tidak hanya memahami isu pencemaran dari buku pelajaran, tetapi juga melihat langsung bagaimana sampah yang dibuang sembarangan berakhir di pesisir dan berpotensi merusak ekosistem laut.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan rasa cinta lingkungan dan kepedulian sosial sejak dini. Anak-anak tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi juga langsung turun ke lapangan untuk melihat dan merasakan dampaknya,” ujar Kepala SMP Negeri 37 Surabaya, Ririn Lelaningtias.
Dari Karung Sampah ke Kesadaran
Aksi tersebut tidak berhenti pada kegiatan memungut sampah. Para siswa juga diajarkan memilah sampah ke dalam beberapa kategori: organik, plastik yang dapat didaur ulang, dan sampah non-daur ulang. Pemilahan ini menjadi bagian penting agar sampah bernilai ekonomi dapat disalurkan ke bank sampah atau pengelola daur ulang.
Bagi sebagian siswa, kegiatan itu menjadi pengalaman yang mengubah cara pandang terhadap sampah. Yang sebelumnya dianggap sebagai barang sisa yang tinggal dibuang, kini mulai dipahami sebagai persoalan lingkungan yang berujung pada laut, nelayan, dan kualitas hidup masyarakat pesisir.
Isu sampah plastik memang bukan persoalan baru di Pantai Tambak Wedi. Kawasan pesisir di dekat Jembatan Suramadu itu telah lama menjadi lokasi berbagai aksi bersih-bersih yang melibatkan pelajar, komunitas lingkungan, dan pemerintah. Pada 2026, aksi kolaborasi aktivis lingkungan dan pelajar di Tambak Wedi juga dilakukan untuk menjaga kawasan mangrove dari pencemaran sampah plastik.
Apresiasi dari Warga Pesisir
Semangat para pelajar mendapat apresiasi dari warga dan nelayan setempat. Bagi mereka yang setiap hari beraktivitas di pesisir, kehadiran siswa-siswi SMPN 37 bukan hanya membantu membersihkan pantai, tetapi juga menumbuhkan harapan bahwa kesadaran lingkungan dapat tumbuh dari generasi muda.
Kepedulian semacam ini penting karena dampak sampah tidak berhenti pada pemandangan pantai yang kotor. Sampah plastik yang masuk ke perairan dapat merusak ekosistem, mengganggu sektor perikanan, menurunkan kualitas lingkungan pesisir, dan pada akhirnya memengaruhi kesejahteraan masyarakat sekitar.
Pesan yang Ingin Ditinggalkan
Keluarga besar SMP Negeri 37 Surabaya berharap aksi ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Mereka menargetkan pesan sederhana namun kuat: buang sampah pada tempatnya, kurangi plastik sekali pakai, dan perlakukan lingkungan sebagai tanggung jawab bersama.
Dari Pantai Tambak Wedi, puluhan pelajar membawa pulang lebih dari sekadar karung sampah. Mereka membawa kesadaran bahwa menjaga laut dapat dimulai dari tangan kecil, dari kebiasaan sehari-hari, dan dari keberanian untuk turun langsung ke lapangan.
(Rophy Pareno)


