PD PARFI Jatim bersinergi dengan Polda Jatim Jaga Kamtibmas dan Pencegahan Bahaya Narkoba dalam bentuk Perfilman dan Penguatan Talenta Lokal
SURABAYA, FileNews.id - Pengurus Daerah Persatuan Artis Film Indonesia (PD PARFI) Jawa Timur mendorong penguatan ekosistem perfilman daerah melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kepolisian Daerah Jawa Timur.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua PD PARFI Jawa Timur, Wira Lina, saat melakukan audiensi dengan jajaran Polda Jawa Timur. Dalam pertemuan yang berlangsung Rabu (23/092026) di ruang kerja Direktur Ditbinmas Polda Jatim lantai 3 Gedung Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) Polda Jatim. Direktur Ditbinmas Polda Jatim Kombes Pol. Darman, S.I.K., M.Pd menyambut baik kedatangan teman-teman perwakilan PD PARFI Jatim diantaranya Wira Lina (Ketua PD PARFI Jatim), Husein Syahlan (Sekretaris PD PARFI Jatim), Rophy Pareno dan Adi (Anggota Biro Pendidikan, Seni & Budaya PD PARFI Jatim), dalam kesempatan tersebut PD PARFI Jatim menawarkan sejumlah program, mulai dari roadshow perfilman, workshop akting, hingga produksi karya audiovisual yang mengangkat legenda dan kekayaan budaya Jawa Timur.
Menurut Wira, Jawa Timur memiliki potensi besar untuk melahirkan aktor, sineas, serta karya film yang mampu bersaing di tingkat nasional. Potensi tersebut tidak hanya berasal dari kota-kota besar, tetapi juga dari berbagai kabupaten dan desa.
“Di Jawa Timur banyak artis yang pada awalnya tumbuh dari daerah, kemudian berkembang hingga tingkat nasional,” ujar Wira dalam audiensi tersebut.
Salah satu program yang tengah disiapkan PARFI Jatim ialah roadshow perfilman ke 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Program itu diarahkan untuk memperkenalkan seni peran sekaligus menggali cerita-cerita lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi karya film.
Legenda seperti kisah tokoh pewayangan, cerita rakyat, serta sejarah lokal dinilai memiliki kekuatan naratif dan visual. Kekayaan tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi film bergenre drama, sejarah, budaya, hingga horor.
“Jawa Timur memiliki banyak legenda yang luar biasa. Ini bisa menjadi bahan film sekaligus memperkenalkan potensi daerah kepada masyarakat luas,” kata Wira.
Selain roadshow, PD PARFI Jatim juga berencana menggelar workshop akting. Pelatihan tersebut diharapkan dapat membuka ruang belajar bagi masyarakat yang ingin mengembangkan kemampuan seni peran dan mempersiapkan diri menghadapi industri perfilman.
Program serupa juga mulai dikembangkan di tingkat daerah. PC PARFI Kediri, misalnya, bekerja sama dengan PD PARFI Jawa Timur menyiapkan workshop akting pada November 2026. Kegiatan bertema “Bakat Akting Gak Hadir di Depan Cermin” itu terbuka bagi masyarakat umum dan menghadirkan aktor sekaligus praktisi perfilman Susilo Badar sebagai pemateri.
Dalam audiensi tersebut, pihak kepolisian menyambut baik peluang kolaborasi di bidang seni, budaya, dan produksi film. Namun, kerja sama itu perlu dirancang secara realistis.
" Bentuk dukungan yang memungkinkan lebih diarahkan pada kolaborasi program, fasilitasi kegiatan, serta penguatan pesan publik melalui karya kreatif ", tutur Darman.
Konsep kolaborasi dapat diwujudkan melalui produksi film pendek bertema keamanan, ketertiban masyarakat, pendidikan, kebudayaan, dan pelayanan publik. PD PARFI Jatim berperan dalam pengembangan ide, penulisan skenario, pengarahan akting, serta produksi kreatif. Sementara itu, kepolisian dapat memberikan perspektif substantif sesuai bidang yang diangkat.
“Kalau ada kegiatan yang mendukung tugas Polri, tentu kami senang untuk bersinergi. Namun, dukungan tersebut harus disesuaikan dengan ketentuan dan kemampuan anggaran,” lanjut Darman.
Audiensi tersebut juga membahas pentingnya seni pertunjukan dan film sebagai media penyampaian pesan kepada masyarakat. Pesan publik dinilai akan lebih mudah diterima apabila dikemas melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam konsep kegiatan budaya yang pernah dirancang kepolisian, misalnya, kelompok seni dapat menampilkan drama mengenai peran guru, pendidikan karakter, serta hubungan antara guru dan murid. Pertunjukan tidak berhenti pada seremoni, tetapi membawa pesan moral yang dapat menyentuh emosi penonton.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa seni memiliki fungsi sosial yang kuat. Film, drama, dan pertunjukan budaya dapat menjadi sarana komunikasi publik yang edukatif, persuasif, sekaligus membangun kedekatan antara lembaga dan masyarakat.
Bagi PD PARFI Jatim, kerja sama semacam itu juga menjadi kesempatan untuk memperluas ruang berkarya bagi para pelaku industri kreatif. Organisasi tersebut tidak hanya menghimpun aktor, tetapi juga membuka ruang bagi penulis, sutradara, pekerja produksi, pengelola manajemen artis, serta insan kreatif lainnya.
Wira Lina menegaskan, penguatan PD PARFI Jatim membutuhkan kerja bersama dengan berbagai pihak. Pengembangan organisasi dan program dilakukan melalui gotong royong pengurus serta dukungan para mitra.
Selain membangun jaringan, PD PARFI Jatim juga berupaya memperkuat sarana produksi film. Ketersediaan peralatan, pelatihan berkelanjutan, serta manajemen produksi menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem perfilman yang sehat.
Upaya mengembangkan film berbasis kearifan lokal bukan gagasan baru. Pada 2017, PARFI di berbagai daerah di Jawa Timur juga pernah menyepakati pengembangan karya film yang mengangkat potensi dan karakter lokal masing-masing daerah. Pengembangan tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga pemerintah maupun nonpemerintah, termasuk pelatihan seni peran dan manajemen produksi.
Di tengah perkembangan teknologi digital, peluang produksi film semakin terbuka. Masyarakat di daerah kini dapat memproduksi dan mendistribusikan karya melalui berbagai platform digital tanpa harus sepenuhnya bergantung pada pusat industri perfilman.
Karena itu, roadshow, workshop akting, dan produksi film berbasis legenda lokal dapat menjadi langkah strategis untuk menemukan talenta baru sekaligus memperkenalkan identitas budaya Jawa Timur.
Sinergi antara PD PARFI Jatim, kepolisian, pemerintah daerah, komunitas, lembaga pendidikan, dan sektor swasta diharapkan mampu melahirkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki nilai edukasi, kebudayaan, dan manfaat sosial bagi masyarakat.
(Rophy Pareno)


