Usulan Jalan Gombloh: Menjembatani Ruang Publik dan Warisan Seni Surabaya
SURABAYA, filenews.id ~ Upaya mengabadikan nama legenda musik Gombloh di ruang-ruang publik Kota Surabaya terus bergerak. Komunitas Mogers (Memory of Gombloh) menginisiasi usulan penamaan ruang publik, gedung, dan jalan dengan nama sang musisi, yang kini tengah memasuki tahap kajian mendalam di lingkungan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya.
Selanjutnya, hasil kajian ini direncanakan akan dibawa ke meja pembahasan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) serta Dewan Kebudayaan Surabaya untuk memperoleh pandangan dan persetujuan lebih lanjut.
Salah satu usulan yang mengemuka adalah penamaan ruas jalan di sisi kompleks DPRD Surabaya dengan nama Jalan Gombloh. Ide ini disampaikan langsung oleh perwakilan Mogers, Budi Haryoso, usai menghadiri audiensi dengan Disbudporapar pada 15 Juli 2026. Ia menyoroti jalur yang membentang dari kawasan Monumen Kapal Selam (Monkasel), melewati arena skater, sisi Pusara, bagian belakang Gedung Negara Grahadi, hingga mengarah ke Jembatan Ketabang. Menurutnya, jalur tersebut selama ini belum memiliki penamaan resmi.
“Kalau tidak keliru, jalan di samping DPRD itu sangat layak diberi nama Jalan Gombloh, mengingat jalurnya memang belum bernama hingga kini,” ujar Budi dengan logat khas Surabaya. Baginya, jalur ini bukan sekadar akses lalu lintas, tetapi memiliki kedekatan historis dan emosional dengan ruang-ruang seni kota.
Budi menambahkan, kedekatan lokasi ini dengan Balai Pemuda — salah satu titik penting aktivitas seni dan budaya di Surabaya — menjadi alasan kuat lainnya. Dalam catatan para pegiat Mogers, Gombloh disebut kerap menyusuri tepian sungai di kawasan tersebut untuk mencari inspirasi. Penamaan jalan di jalur itu dengan namanya diharapkan tidak hanya menjadi penanda geografis, tetapi juga ruang ekspresi dan penghormatan bagi para pelaku seni.
Jika terealisasi, jalur tersebut berpotensi menjadi koridor budaya yang menghubungkan memori kolektif kota dengan aktivitas seni masa kini. Ruang publik itu bisa berkembang sebagai tempat pertemuan komunitas, ajang pertunjukan seni jalanan, hingga ruang refleksi bagi generasi muda yang ingin mengenal lebih dekat sosok Gombloh dan gagasan-gagasannya.
Usulan ini lahir dari semangat untuk melestarikan warisan karya dan pemikiran Gombloh, sosok seniman kelahiran Surabaya yang dikenal melalui lagu-lagu bertema kedaerahan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Bagi komunitas Mogers, penamaan ruang publik dengan nama Gombloh bukan sekadar penghormatan simbolik, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga relevansi pesan-pesan dalam karya sang musisi di tengah kehidupan kota yang terus berubah.
Pemerintah kota bersama lembaga terkait diharapkan dapat melihat usulan ini sebagai salah satu bentuk penghargaan bagi tokoh seni nasional asal Surabaya, sekaligus momentum untuk memperkuat identitas kultural kota. Di tengah penataan ruang kota yang semakin modern, kehadiran nama Gombloh di ruang publik akan menjadi pengingat bahwa di balik gedung-gedung dan jalan-jalan besar, Surabaya juga dibangun oleh karya, lirik, dan sensitivitas para senimannya.
(Rophy Pareno)


